Sabtu, 10 November 2012

Ayah...

ayah, satu nama berjuta arti
kau tahu yang tak ku tahu
kau hidup untuk hidupku
Kau berikan aku pengertian yang aku tidak mengert
kau ajari aku pelajaran yang aku tidak pahami


    betapa sedih betapa perih semua bersatu dalam sau tangisan
    tetesan air mata hati seakan tak bisa di tahan
    kau tak pernah mengerti tak pernah pula memahami
    kadang ku berfikir hidup tak pernah adil
    semua menjauh memusuhiku
    cinta darimu menghilang seperti tak mau menemuiku lagi
    sebesar apakah dosa dan kesalahanku ?

perkataanmu menyentak
mengejutkan
terbelalak mata
terenyuh bergetar jiwa
terpaku suara
tersentak kata

  ingin ku berlari tinggalkan semua
  tapi ku tetap mencoba untuk bertahan dalam kegelapan hidup
  berdesir bulir-bulir samar
  melenyapkan seberkas cahaya gemilau
  berubah segenap menjadi kelam
  meleburkan ketulusan hati menjadi usang

ayah,
kemana sinarmu ?
kemana ketulusan hatimu ?
ku memuja serayu berdoa
mengadu pada kekuasaan ilahi
mengharap munculnya lagi cahaya...

Jumat, 09 November 2012

Resensi Novel Perahu Waktu


Derai Asa dalam Api Kehidupan
Judul buku                  : Perahu Waktu
Pengarang                 : Supaat l. Latief
Editor                          : A. Rodhi Murtadho
Layout                         : Neanya Taufiq
Design Cover            : N. Anjala
Penerbit                     : Araska
                                     Pinang Merah Residence Kav. 14
                                     Jl. Imogiri Barat – Bantul – Yogyakarta
e-Mail penerbit          : penerbit_araska@yahoo,com
Tahun terbit                : September 2012 ( Cetakan I )
Ukuran buku               : 13,5x20,5
Jumlah halaman        : 192 lembar
Madun yang terlahir di desa Woh. Desa yangasri dan penuh ketenangan hidup. Tapi ketika Madun beranjak remaja, ia di ajak keluarganya untuk pindah ke Desa Madulegi. Desa yang terletak di pinggiran kota Lamongan. Desa ini berada di pinggir jalan raya, tentu saja semua keadaan akan sangat jauh berbeda. Ketentraman, kedamaian, kenyamanan akan jauhtak bisa di dapat.
Madun lelaki desa yang ingin sukses berjuang menghadapi lika liku kehidupannya. Kota Malang adalah tujuan untuk mewujudkan cita-citanya. Kegancarannya dalam menjalankan rutinitas kehidupan yang bisa di bilang berat. Gemerlap kota telah menemukannya dengan seorang wanita. Ina Farisa namanya. Mulailah ia beradu kasih dengan Ina. Tanpa Madun meminta restu kepada orangtuanya pernikahan pun terjadi. “Saya mohon maaf, Pak. Bapak dan ibu saya sudah tua. Saya jadi tak tega untuk membawa mereka datang jauh-jauh kemari. Dalam agama, pernikahan selain ada pengantin laki-laki dan perempuan, hanya di butuhkan wali dari pihak perempuan dan saksi. Jadi saya mohon maaf kalau orang tua saya hanya saya kabari dan merestui.” Selesai pernikahan pun Madun membawa Ina ke rumah orang tuanya. Akakah Madun mendapat restu orang tuanya?
Kelayakan hidup semakin Madun dapatkan. Selain menjadi sarjana Psikologi tiga buah hati menemani hidup Madun dan Ina. Kemajuan ekonomi membuat Ina lupa akan tugas dan janji nya sebagai seorang ibu. Kebohongan, pertengkaran sering terjadi. Ina mulai berdusta. Mungkinkah rumah tangga mereka bisa di pertahankan ? akankah kesabaran dan kecerdasan Madun bisa mengubah segala takdir yang terjadi dalam kehidupan keluarganya ?

Novel yg berjudul Perahu Waktu dalam penyajiannya sudah cukup baik sebagai bacaan remaja.  Dimulai dari pembukaan cerita penutup cerita sudah baik karena dari satu cerita ke ceritalainnya tidak bertele-tele atau menyambung. Dan uniknya lagi pengarang dapat mengajak  pembaca untuk berfikir akhir dari cerita novel itu. Pengarang memberikan efek emosional dan rasa penasaran yang tinggi, membuat seorang termotifasi bahkan terhibur. Pengarang menggunakan bahasa yang tidak baku supaya masyarakat umum mudah mengerti, khususnya para remaja mudah menegrti dan memahami isi novel dengan baik. Bahasa yang di gunakan pun tidak berbelit- belit dan tidak mendayu-dayu.Novel ini bisa menarik perhatian para pembaca.Dari setiap bagian cerita ke bagian cerita yanglain bisa membuat penasaran para pembaca dan para pembaca ingin cepat menyelesaikanmembaca novel ini dan mengetahui akhir cerita. Novel ini tersusun secara sederhana, dimulai dari pembuka cerita, isi cerita, dan penutup cerita. Dan terdiri dari bermacam – macam konflik, sehingga konflik dalam novel ini menarik.Buku ini terdiri dari 11 bab.  Pada setiap bab cerita pun tidak terlalu panjang sehingga tidak membosankan para pembaca. Dan pada setiap bab memiliki konflik yg berbeda beda. Klimaks yang di miliki setiap bab membuat pembaca semakin penasaran. Setiap bab memiliki judul yang menarik.Novel  ini bermanfaat bagi  semua masyarakat khususnya remaja.  Khususnya remaja SMA dan  Mahasiswi untuk lebih mengasah kemampuan dan meningkatkan kemauan belajar. Menyadarakan mereka untuk lebih mengerti betapa pentingnya masa depan. Dan agar tidak salah mengambil langkah, berfikir dua kali untuk melakukan tindakan . Mungkin mereka bisa belajar dari membaca konflik-konflik yang ada di novel ini. Dan kesadaran akan bahwa kemewahan tak akan selamanya membuat kita lebih maju. Banyak hal yang layak dan penting untuk kita timba dan renungkan. Cover (sampul) novel sangat menarik, perwatakan tokoh mudah dimengerti. Membaca novel ini sangat menyenangkan. Kecerdasan Karmin yang menular kepada anaknya Madun membuat kita bisa belajar dari kehidupannya. Hidup mandiri, semangat yang pantang menyerah dapat memberikan kita sebuah pelajaran yang amat berarti. Melihat keharmonisan di awal pernikahan Madun dan Ina kadang membuat kita iri. Suka dan duka bercampur menjadi satu dalam novel ini. Tapi tampilan bagian dalam novel biasa-biasa saja. Banyak hal yang dapat kita timba dari membaca novel Perahu Waktu ini.Peristiwa- peristiwa dalam novel ini dapat membuat kita sadar, bahwa “betapa pentingnya hidup ini, jangan hanya karena gengsi kamu masuk dalam lubang yang salah” secerdas apapun kita, sekuat apapun tekad kita untuk merubah watak seseorang tak akan ada yang mampu merubah ciptaan Tuhan kecuali diri kita sendiri dan tuhan yang menghendakinya.

Membaca  perahu waktu ini seakan saya berada dalam perahu yang terombang ambing oleh ombak. Konflik membuat resah, gelisah dan hati yang sering berdebar di ulas dengan konflik yang apik dan melegakan . Banyak pelajaran yang mungkin dapat merubah kita untuk lebih peduli terhadap garis kehidupan. Tetapi  kecerdasan bisa kita rubah tapi watak tak ada yang mampu merubahnya.

NB :
yaa gan ini adalah pengalaman pertama aku dalam meresensi sebuah novel, sebelumnya aku sedikit mendapat bekal dari guruku Pak Agus Harianto guru Sastra yang begitu kagum aku dengan beliau. Mungkin banyak yang bilang masih ceketer tapi aku tetap memotifasi diriku sendiri. Hidup harus di jalani dengan berbagai pengalaman, dari situlah sebuah kunci keberhasilan di raih :)